ADVERSITY QUOTIENT DALAM AL-QUR’AN
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1260] dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.(QS.Fathir 35 : 32)
Agar dapat mudah memahaminya, seperti halnya pendaki gunung, ada tiga tipe manusia jika dilihat dari bagaimana tindakan mereka dalam meraih tujuannya.
- Quitter (Mudah menyerah/Dzolimun Linafsih). Seorang yang langsung menyerah dan memvonis bahwa dirinya tidak mampu. Oleh Paul Stoltz seorang Quitter diumpamakan seperti seorang karyawan yang bekerja sekedarnya untuk hidup. Mereka biasanya tidak tahan terhadap segala sesuatu yang bersifat tantangan.
- Camper (pekemah,Muqtasid). Bersifat banyak perhitungan. Walaupun punya keberanian menghadapi tantangan namun dengan selalu memertimbangkan resiko yang bakal dihadapi. Golongan ini tidak ngotot untuk menyelesaikan pekerjaan karena berpendapat sesuatu yang secara terukur akan mengalami resiko. Mereka juga hanya mengerjakan hal-hal yang bersifat urgent. Sehingga lupa akan visi dan misi yang telah mereka tetapkan.
- Climber (Pendaki/Sabiquna bil khoirot) adalah mereka yang ulet dengan segala resiko yang bakal dihadapinya mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
Dalam bukunya berjudul Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities, Paul Stoltz memerkenalkan bentuk kecerdasan yang disebut adversity quotient (AQ). Menurutnya, AQ adalah bentuk kecerdasan selain IQ, SQ, dan EQ yang ditujukan untuk mengatasi kesulitan. AQ dapat digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang ketika menghadapi masalah rumit. Dengan kata lain AQ dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan.
Adversity Quotient adalah “the capacity of the person to deal with the adversities of his life. As such, it is the science of human resilience,” atau bila diterjemahkan “kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan kesengsaraan dalam hidupnya.
Pada dasarnya Allah menciptakan manusia bersifat berkeluh kesah. Dalam QS.Al-Ma’aarij 70:19-21 Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
Akan tetapi jika manusia tersebut paham bahwasanya Allah memberikan batu ujian adalah semata-mata untuk meninggikan derajatnya, lalu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam meraih kesuksesan dunia dan akhirat, niscaya itulah sebaik-baiknya umat (Khoiru ummah).
Sudut pandang bernegara
Bukanlah suatu perkara yang mudah, melihat keruwetan dan carut-marutnya bangsa Indonesia ini sungguh terkadang membuat hati pesimis. Bagaimana tidak, pemimpin-pemimpin yang sudah terpilih seakan-akan lupa dengan janji-janjinya semasa kampanye dulu. Kebobrokan di segala aspek menjadi pertanda gagalnya sebuah sistem perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.
Alih-alih menjadi orang-orang yang hanya mampu berkeluh kesah, lebih baik jika kita memulainya dari diri sendiri. Di awali dengan keyakinan bahwa fase kritis bangsa ini pasti akan segera berakhir. Setelah yakin, selanjutnya adalah dengan melakukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar. Mengajak dan membangkitkan kembali semangat bergotong-royong, bersatu padu untuk kemajuan bangsa ini. Tentunya hal ini pasti akan mendapatkan tantangan. Dan tantangan inilah yang diperlukan dalam penaikkan kualitas.
Dengan menanamkan Adversity Quotient dalam masing-masing individu secara berkesinambungan tentunya akan sedikit demi sedikit member suatu semangat baru, kesejukan, harapan akan mampunya bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Mungkin butuh waktu yang tidak sedikit untuk mengejar ketertinggalan dari Negara-negara yang lain. Dan peran media informasi baik cetak dan elektronik sungguh amat diharapkan dalam penanaman Adversity Quotient ini. Are you ready?
by: Pungki Harmoko
Jakarta 3:32 PM
1-Juni-2011
No comments:
Post a Comment